Rabu, 12 Oktober 2011

SENAM PERNAPASAN MENURUT SUDUT PANDANG ILMU FAAL OLAHRAGA



Oleh: Sigit Nugroho
Dosen Pendidikan Kesehatan dan Rekreasi Fakultas Ilmu Keolahragan
Universitas Negeri Yogyakarta

Sebelum membaca tulisan ini saya mohon maaf pada penulis terutama Bapak Sigit Nugroho karena mengcopas tulisan beliau, tapi tidak ada maksud apappun, selain daripada ingin berbagi ilmu dan pengetahuan yang dimiliki oleh Pak Sigit, semoga bisa menjadi ilmu bermanfaat bagi siapapun yang membacanya dan semoga ini menjadi simpanan amal ibadah Pak Sigit yang nantinya mungkin akan sangat bermanfaat diakhir kehidupan nanti.
Bagi Para pembaca selamat menikmati dan semoga bermanfaat. (Ratu Agung 78
)

ABSTRAK
Senam pernapasan merupakan sebuah olahraga tradisional yang
memberikan pelayanan, pendidikan dan pelatihan dengan pola olah napas, olah
gerak, dan olah batin serta pemanfaatan energi kehidupan untuk kesembuhan.
Senam pernapasan sebagai alternatif sarana untuk memperoleh kesehatan yang
diharapkan bisa mengefektifkan semua organ dalam tubuh secara optimal dengan
olah napas dan olah fisik secara teratur, sehingga hasil metabolisme tubuh dan
energi penggerak untuk melakukan aktivitas menjadi lebih besar dan berguna
untuk menangkal penyakit.
Secara fisiologis senam pernapasan dengan menahan dan menekana napas di
bawah perut sambil bergerak menyebabkan keadaan hipoksik (kekurangan
oksigen) pada paru, berlanjut ke darah dan berakhir pada seluruh sel jaringan
tubuh, terutama pada sel-sel otot yang aktif, sehingga akan melatih dan
merangsang seluruh sel tubuh melalui mekanisme hipoksia agar tetap bertahan
dalam menghadapi kemiskinan akan oksigen. Sel adalah satuan terkecil dari tubuh
manusia. Secara biologis, kehidupan dan kesehatan manusia tergantung pada
kehidupan dan kesehatan sel. Tetap bertahan dalam kemiskinan oksigen, maka
fungsi sel-sel menjadi semakin baik dalam keadaan oksigen normal. Dalam
latihan senam pernapasan, sel-sel itu dipuasakan dari oksigen selama melakukan
jurus yaitu 30-45 detik. Dengan demikian dari sudut Ilmu Faal dapat dikemukakan
bahwa manipulasi oksigen yakni membuat sel-sel tubuh kekurangan akan oksigen
adalah cara yang sangat fisiologis untuk merangsang sel-sel tubuh meningkatkan
dirinya.
Kata kunci: senam pernapasan dan lmu faal.
PENDAHULUAN
Seni Pernapasan bagi masyarakat Indonesia bukanlah hal baru, bahkan
berbondong-bondong orang belajar olahraga ini dengan niat yang beraneka ragam,
dari niat ingin sehat, ingin punya tenaga dalam hingga latar belakang lainnya.
Perkembangan ilmu pernapasan hingga saat ini diminati oleh berbagai lapisan
masyarakat, sehingga perguruan ataupun organisasi olahraga pernapasan tetap
eksis hingga saat ini bahkan telah berkembang hingga kepelosok desa sakalipun.
Bagi seorang yang pernah mendalami latihan pernapasan baik untuk kesehatan
dan tenaga dalam pasti paham betul bagaimana energi melalui olah napas yang
dikelola dan disimpan didalam tubuh, tentunya tidak melupakan generator atau
biasa dikenal dengan cakra yang terdapat didalam tubuh setiap manusia.
Senam pernapasan merupakan sebuah olahraga tradisional yang
memberikan pelayanan, pendidikan dan pelatihan dengan pola olah napas, olah
gerak, dan olah batin serta pemanfaatan energi kehidupan untuk kesembuhan
orang lain. Secara garis besar senam pernapasan sebagai alternatif sarana untuk
memperoleh kesehatan yang diharapkan bisa mengefektifkan semua organ dalam
tubuh secara optimal dengan olah napas dan olah fisik secara teratur, sehingga
hasil metabolisme tubuh dan energi penggerak untuk melakukan aktivitas menjadi
lebih besar dan berguna untuk menangkal penyakit.
Senam pernapasan memang mengutamakan olah napas yang secara khusus
mengubah atau membalik sistem pernapasan biasa menjadi sistem pernapasan
perut. Sistem pernapasan perut yang dilakukan dengan halus dan lembut penuh
perasaan, untuk mengolah sumber-sumber energi dari alam, diserap bersamaan
waktu bernapas agar terbentuk suatu pusat pemasok energi yang kuat, nantinya
berguna untuk mengolah makanan dan minuman dalam metabolisme tubuh dan
lebih besar untuk aktivitas, serta sebagai penangkal dan penyembuh sekiranya ada
organ dalam tubuh yang sakit. Namun yang menjadi masalah dan kesulitan bagi
masyarakat peminat olahraga tradisional sampai saat ini kurangnya pemahaman
dan informasi yang memadai mengenai manfaat dan informasi penyembuhan
senam pernapasan. Oleh karena itu sangat perlu difahami apa pernapasan, sistem
respirasi selama olahraga, bagaimana cara/ciri olahraga senam pernafasan, dan
bagaimana tata-laksananya menurut kaidah ilmu faal olahraga.
PENAPASAN
Makanan yang kita makan yang kemudian diolah oleh alat-alat pencernaan
makanan, ,mengandung tenaga yang berguna bagi sel-sel tubuh. Tetapi tenaga
energi masih terikat. Untuk membebaskan energi zat makanan tersebut harus
dibakar. Untuk pembakaran (oksidasi sel/metabolisme sel) diperlukan oksigen
yang berasal dari luar.
Menurut Muchtamadji dan Cecep (2000), seluruh deret peristiwa yang
dimulai dengan pengisapan udara luar dan berakhir dengan oksidasi sel, termasuk
pengeluaran CO2, (karbondioksida) ke udara luar disebut pernapasan. Fungsi
darah mengangkut oksigen dan karbondioksida. Pengangkutan oksigen dan
karbondioksida antara paru-paru dengan sel-sel tubuh oleh darah, dan oksidasi sel,
disebut pernapasan dalam. Oksigen masuk lebih dulu melalui mulut/hidung,
pharynx, glottis, trachea, bronchus, dan paru yang selanjutnya oleh darah akan
disampaikan ke sel-sel/jaringan tubuh, sedangkan karbondioksida akan keluar
melalui jaln kebalikannya. Tujuan pernapasan ialah mengambil oksigen dari udara
luar untuk keperluan oksidasi sel dan mengeluarkan karbondioksida (sebagai sisa
oksidasi sel) ke udara luar.
Menurut Lauralee Sherwood yang di terjemahkan oleh Beatricia. I Santoso
(2001), Pernapasan dibagi menjadi dua kategori yaitu pernapasan internal dan
pernapasan eksternal. Sedangkan fungsi utama pernapasan adalah untuk
memperoleh O2 agar dapat digunakan oleh sel-sel tubuh dan mengeliminasi CO2
yang dihasilkan oleh sel. Pernapasan Internal mengacu kepada reaksi metabolisme
intrasel yang mengunakan O2 dan menghasilkan CO2 selama oksidasi molekulmolekul
nutrien penghasil energi. Pernapasan eksternal mencakup berbagai
langkah yang terlibat dalam pemindahan O2 dan CO2 antara lingkungan eksternal
dan sel jaringan. Sistem pernapasan dan sirkulasi berfungsi bersama-sama untuk
melaksanakan pernapasan eksternal.
MEKANIKA PERNAPASAN
Ventilasi atau bernapas adalah proses pergerakan udara masuk-keluar paru
secara berkala sehingga udara alveolus yang lama dan telah ikut serta dalam
pertukaran O2 dan CO2 dengan darah kapiler paru diganti oleh udara atmosfer
segar. Ventilasi secara mekanis dilaksanakan dengan mengubah-ubah secara
berselang-seling arah gradien tekanan untuk aliran udara antara atmosfer dan
alveolus melalui ekspansi dan penciutan berkala paru. Kontraksi dan relaksasi
otot-otot inspirasi (terutama diafragma) yang berganti-ganti secara tidak langsung
menimbulkan inflansi dan deflasi periodic paru dengan secara berkala
mengembangkempiskan rongga toraks, dengan paru secara pasif mengikuti
gerakannya.
Kontraksi otot inspirasi memerlukan energi, inspirasi adalah proses aktif,
tetapi ekspirasi adalah proses pasif pada bernapas tenang karena ekspirasi terjadi
penciutan elastis paru sewaktu otot-otot inspirasi melemas tanpa memerlukan
energi. Untuk ekspirasi aktif yang lebih kuat, kontraksi otot-otot ekspirasi
(terutama otot abdomen) semakin memperkecil ukuran rongga toraks dan paru,
yang semakin meningkatkan gradien tekanan intra-alveolus dan atmosfer (dalam
kedua arah), semakin besar laju aliran udara, karena udara terus mengalir sampai
tekanan intra-alveolus seimbang dengan tekanan atmosfer (Lauralee Sherwood
yang di terjemahkan oleh Beatricia. I. Santoso, 2001).
PERTUKARAN GAS
Menurut Lauralee Sherwood yang di terjemahkan oleh Beatricia. I Santoso
(2001), pertukaran gas oksigen dan karbondioksida bergerak melintasi membran
tubuh melalui proses difusi pasif mengikuti gradien tekanan parsial. Difusi netto
O2 mula-mula terjadi antara alveolus dan darah, kemudian antara darah dan
jaringan akibat gradien tekanan parsial O2 yang tercipta oleh pemakaian terus
menerus O2 oleh sel dan pemasukan terus menerus O2 segar melalui ventilasi.
Difusi netto CO2 terjadi dalam arah yang berlawanan, pertama-tama antara
jaringan dan darah, kemudian antara darah dan alveolus, akibat gradien tekanan
parsial CO2 yang tercipta oleh produksi terus menerus CO2 oleh sel dan
pengelauaran terus menerus CO2 alveolus oleh proses ventilasi.
TRANSPORTASI GAS
Oksigen dan Karbondioksida tidak terlalu larut dalam darah, keduanya
teruama harus diangkut dengan mekanisme selain hanya larut secara fisik. Hanya
1,5% O2 yang larut secara fisik dalam darah, dengan 98,5% secara kimiawi
berikatan dengan hemoglobin (Hb). Faktor utama yang menentukan seberapa
banyak O2 berikatan dengan Hb (% saturasi Hb) adalah PO2 darah.
Karbondioksida yang diserap dikapiler sistemik diangkut dalam darah dengan tiga
cara: (1) 10% larut secara fisik, (2) 30% terikat ke Hb; dan (3) 60% dalam bentuk
bikarbonat (HCO3
-). Enzim karbonat anhidrase eritrosit mengatalisasi perubahan
CO2 menjadi HCO3
- sesuai dengan reaksi: CO2 + H2O H2CO3 H+ + HCO3
-
Ion H+ yang dihasilkan berikatan dengan Hb. Reaksi-reaksi ini semuanya berbalik
arah di paru ketika CO2 dieliminasi ke alveolus (Lauralee Sherwood yang di
terjemahkan oleh Beatricia. I. Santoso, 2001).
SISTEM PERNAPASAN SELAMA OLAHRAGA
Sistem pernapasan melaksanakan pertukaran udara antara atmosfer dan paru
melalui proses ventilasi. Pertukaran O2 dan CO2 antara udara dalam paru dan
darah dalam kapiler paru berlangsung melalui dinding kantung udara, atau
alveolus, yang sangat tipis. Saluran pernapasan menghantarkan udara dari
atmosfer ke bagian paru tempat pertukaran gas tersebut berlangsung. Paru terletak
di dalam kompartemen toraks yang tertutup, yang volumenya dapat diubah-ubah
oleh aktivitas kontraktil otot-otot pernapasan (Lauralee Sherwood yang di
terjemahkan oleh Beatricia. I Santoso, 2001).
Menurut Santosa Giriwijoyo (2006), respons kardiovaskular terhadap
olahraga adalah meningkatnya ventilasi paru untuk menjamin oxigenasi darah
arteri dan eliminasi karbondioksida dengan meningkatnya udara nafas (tidal
volume) dan frekuensi pernapasan. Keberhasilan sistema respirasi meminimalkan
perubahan komposisi darah yang dipicu oleh olahraga, terlihat dari adanya
stabilitas yang mantap dari harga PO2, PCO2, dan pH selama olahraga dengan
intensitas rendah dan sedang. Respon pernapasan terhadap olahraga meliputi
timbal balik antara masukan-masukan neural dan hormonal ke pusat pernapasan.,
meliputi kecepatan pembuangan CO2 dari darah oleh paru, besar aliran impuls
desendens yang menyertai aktivasi cortex motoris untuk mengaktifkan otot
rangka, umpan balik dari chemoreseptor dan proprioseptor pada otot yang
berkontraksi, meningkatkan suhu tubuh, dan perubahan kadar ion H+, K+ dan
adrenalin dalam darah arteri.
Chemoreseptor akan merangsang pusat pernapasan secara reflektoris bila
terjadi kekurangan oksigen. Chemoreseptor berupa sel-sel syaraf (seperti
ganglion) yang penuh diliputi kapilae dan sangat sensitive terhadap penurunan
PO2 di dalam darah. Dua buah terletak pada percabangan arteria carotid
communis, dinamakan carotid bodies (glomus caroticum); dan dua buah lagi
terletak pada lengkung aorta dinamakan aortic bodies (glomus aorticum). Apabila
PO2 di dalam darah menurun maka Chemoreseptor akan terangsang dan
selanjutrnya akan mengirimkan impuls ke pusat pernapasan melalui syaraf
glossopharyngeal dan syaraf vagus. Rangsangan dari Chemoreseptor
mengakibatkan menurunnya nilai ambang rangsang pusat pernapasan terhadap
CO2 dengan demikian pernapasan akan ditingkatkan (Muchtamadji dan Cecep,
2000).
Menurut A. Purpa (2006), terdapat batas normal pH cairan tubuh antara 7.35
– 7.40. nilai pH di bawah normal disebut asidosis, sedangkan yang diatas normal
disebut alkalosis. Sistem pernapasan memerlukan waktu 1-3 menit agar dapat
memulihkan peningkatan pH ke batas normal. Apabila terjadi penurunan pH,
pusat pernapasan berupaya meningkatkan frekuensi pernapasan sehingga terjadi
pelepasan CO2 dan sebagai akibatnya dapat terjadi peningkatan pH. Penurunan pH
dalam cairan intraseluler dan ekstraseluler menyebabkan enzim dan co enzim
tidak dapat bekerja optimal pada proses metabolisme aerobik maupun anaerobik.
Keadaan ini menyebabkan terjadinya gangguan pembentukan energi dan akhirnya
menyebabkan penurunan daya tahan fisik seseorang.
Olahraga akan mempengaruhi konsumsi O2 dan produksi CO2 lebih banyak
dibandingkan dengan aktivitas lainnya. Ventilasi paru atau volume pernapasan
semenit akan meningkat dari 1 L/menit menjadi 100 L.menit, bahkan pada orang
yang badannya besar dapat mencapai 200 L/menit. Peningkatan ventilasi paru
disertai dengan peningkatan tidal volume yang nilai rata-ratanya 0,5 L/menit
menjadi 2,5-3,0 L/menit. Frekuensi pernapasan meningkat dari 12-16 X/menit
menjadi 40-50 X/menit. Terdapat hubungan linear antara peningkatan ventilasi
paru dengan peningkatan kerja sampai pada 80-90% kapasitas individu. Setelah
itu sampai dengan akhir kerja atau olahraga, ventilasi lebih cepat.
SENAM PERNAFASAN
Menurut Wisnu Wardoyo (2003), senam pernafasan adalah ilmu yang
mengutamakan olah napas, relaksasi, dan fokus perhatiaan yang secara khusus
mengubah atau membalik sistem pernapasan biasa menjadi sistem pernapasan
perut yang dilakukan dengan halus dan lembut penuh perasaan, untuk mengolah
sumber-sumber energi dari alam, diserap bersamaan waktu bernapas agar
terbentuk suatu pusat pemasok energi yang kuat, nantinya berguna untuk
mengolah makanan dan minuman dalam metabolisme tubuh dan lebih besar untuk
aktivitas, serta sebagai penangkal dan penyembuh sekiranya ada organ dalam
tubuh yang sakit.
Senam Pernafasan memang mengutamakan olah napas yang secara khusus
mengubah atau membalik sistem pernapasan biasa menjadi sistem pernapasan
perut, yang dimaksud pernapasan perut, yaitu bahwa dirongga dada manusia
mempunyai sebuah dasar yang elastis, yaitu diafragma (sekat rongga badan antara
dada dan perut). Pada pengambilan napas, mengempiskan dan mengembangkan
paru-paru, dan pada waktu pengeluaran napas diafragma membelok naik kedalam
rongga dada dengan hasil dari penekanan ke luar beberapa sisa. Tindakan dari
diafragma ini disebut pernapasan perut. Bahkan kehendak udara sesungguhnya
masuk kedalam perut tetapi abdomen itu meniup ke atas dan mengempis seperti
balon.
CARA LATIHAN SENAM PERNAFASAN
Menurut H. Maryanto dalam http://www.angelfire.com, untuk dapat hidup,
manusia butuh bernapas. Tentu saja bernapas biasa berbeda dengan bernapas
untuk sehat dan mengembangkan tenaga dalam. Bernapas biasa dikerjakan secara
refleks, sedangkan bernapas untuk tujuan kesehatan dan pengolahan tenaga dalam
dikerjakan secara sadar dan teratur. Sehat adalah modal dasar untuk menjaga
kelestarian kualitas sumber daya manusia Tanpa kesehatan tidak ada gunanya
segalanya. Senam pernapasan dengan metode khusus mencoba mengembangkan
satu sistem olah raga pernapasan tenaga dalam melalui napas, gerak dan
kosentrasi sehingga menghasilkan olahraga sekaligus olah mental dan olah sosial
yang diharapkan akan menghasilkan kualitas sumber daya manusia seutuhnya.
Dalam Senam pernapasan latihan dilakukan dengan mengolah pernapasan,
yang dilakukan dalam 3 tahap: 1) Pernapasan duduk awal, 2) Pernapasan
bergerak, dan 3) Pernapasan duduk akhir.
1). Cara Latihan Pengolahan Napas dengan Duduk
Pernapasan duduk awal dilakukan sebagai pemanasan (warming-up)
bagian dalam tubuh sebelum melakukan pernapasan bergerak. Pernapasan
duduk akhir dilakukan untuk pendinginan (cooling down) dan pengendapan
tenaga hasil latihan. Pernapasan duduk juga dikerjakan diluar latihan
bersamaan dengan napas gerak. pernapasan duduk awal dan duduk akhir cara
latihannya dan manfaatnya sama. Menurut Wisnu Wardoyo (2003)
pengolahan napas pada posisi duduk merupakan pengambilan posisi dengan
tenang agar mencapai ketenangan yang mendalam, untuk memacu otak
menjalankan fungsi secara maksimal karena otak merupakan komando
tertinggi bagi tubuh. pelaksanaan, sebagai berikut :
a. Latihan mengolah napas dengan posisi duduk bersila. Sikap duduk bersila
ini dengan posisi kaki tumpu ganda.
b. Kaki kanan diletakan di bawah betis kanan, sampai kedua telapak kaki
bersilangan. Kedua telapak tangan dikepalkan, jari tengah pada posisi
tengah telapak tangan, ibu jari ketemu ibu jari, posisi telapak tangan
menghadap ke atas dan diletakkan di depan pusar.
c. Mata terpejam, dagu ditarik kedalam sedikit, punggung tegak ke atas.
Kemudian bernapas perlahan-lahan, panjang lembut dan rata.
d. Pola pernapasannya, yaitu keseimbangan napas (tarik, tahan napas, buang
napas). Ketiga tahapan dilakukan dalam waktu yang sama. Masing-masing
dari waktu napas adalah 10 hitungan (10 detik).
e. Untuk menenangkan diri, pejamkanlah mata anda dan pikirkan tentang
kata-kata atau kalimat yang menimbulkan rasa aman. Pilihlah hal yang
membuat nyaman dan sebutkanlah berulang-ulang pada diri sendiri,
cobalah cara itu selama 15 menit.
f. Sehabis mengolah napas lakukan gerakan-gerakan penutup sebagai
berikut: setelah kedua mata terbuka, gerakkan kedua telapak tangan saling
menggesek-gesek sampai timbul rasa hangat setelah itu diusapkan pada
kedua pipi.
2) Cara Latihan Pengolahan Napas dengan Bergerak
Pernapasan bergerak adalah pengolahan pernapasan yang dilakukan
bersamaan dengan melakukan gerak tertentu/jurus. Pernapasan bergerak
dikerjakan sebagai berikut:
a. Gerakan tungkai:
Tungkai membentuk posisi kuda-kuda rendah, kedua kaki sejajar,
dengan telapak kaki digesekkan ke bumi kedua tumit ditemukan satu sama
lain pada setiap gerakan kaki kemudian kaki digesekan membentuk
setengah lingkaran dengan memutar pada posisi empat arah penjuru.
b. Gerakan tangan:
Untuk gerakan tangan atau sering disebut vita atau jurus. Dalam
senam pernapasan ini gerakan tangan dengan mengabungkan antara
tingkat dasar dengan tingkat lanjut.
Untuk tingkat dasar dengan 7 jurus, tiap jurus gerakannya dengan
intensitas tinggi kira-kira 1 menit. Pada awal gerakan, napas ditarik
sebanyak mungkin melalui hidung, kemudian ditekan dan ditahan dibawa
perut sambil menggesek telapak kaki setengah lingkaran dengan gerakan
memutar pada posisi tiap penjuru, seiring seirama dengan gerakan tangan.
Untuk I kali menekan dan menahan napas minimal dilakukan pada tiap
penjuru, setelah itu napas dikeluarkan, juga melalui hidung. Setelah semua
keempat arah penjuru dilakukan kemudian atur napas dengan tarik dan
keluar napas 2 atau 3 kali, lalu dilanjutkan dengan latihan tingkat lanjut.
Untuk tingkat lanjut gerakannya dengan 4 jurus dengan intensitas
sedang kira-kira 3 menit. Pada awal gerakan, napas ditarik sebanyak
mungkin melalui hidung, kemudian dikeluarkan perlahan-lahan lewat
mulut, seirama dengan gerakan tangan dan gerakan telapak kaki yang
mengesek setengah lingkaran dengan gerakan memutar pada posisi tiap
penjuru dan kembali berputar pada posisi empat penjuru yang berlawanan.
Latihan dilakukan selama 35 menit dan ditutup dengan latihan pernapasan
duduk akhir selama 10 menit.
Sehingga intensitas dalam senam pernapasan ini terdiri dari 1-3-1
yaitu dengan menahan napas (anaerobik) dengan tanpa pemasukan
oksigen selama 1 menit dan dengan menghirup oksigen (O2) dan
mengeluarkan karbondioksida (CO2) atau sering disebut aerobik selama 3
menit dengan durasi selama 35 menit dan frekuensi 3 kali seminggu.
MANFAAT SENAM PERNAFASAN
Menurut H. Maryanto dalam http://www.angelfire.com, manfaat senam
pernapasan dapat ditinjau dari dua sudut:
a. Biolistrik
Dengan posisi kuda-kuda rendah, kedua telapak kaki sejajar, dengan
telapak kaki digesekkan ke bumi kedua tumit ditemukan kemudian kaki
digesekan membentuk setengah lingkaran dengan memutar pada posisi empat
arah penjuru akan memberikan pengaruh tedadinya interaksi gaya Newton
yang semakin besar, sehingga semakin mengaktifkan pusat energi manusia
dan interaksi antara medan listrik bumi dengan medan listrik tubuh juga
diharapkan akan terjadi semaksimal mungkin.
Gesekan pada telapak kaki saat kuda-kuda, dimaksudkan untuk
polarisasi sehingga terjadi pengaturan muatan positif dan negatif dalam tubuh
semakin teratur, seperti pada peristiwa gesekan listrik bahan tidak bermuatan
dan yang bermuatan menjadi teratur positif dan negatifnya sehingga
menghasilkan suatu medan bio-elektromagnetik.
Inspirasi (tarik napas) memberikan oksigen kepada darah sehingga darah
(arteri) bersifat basa. Setelah lama ditahan maka karbon dioksida menumpuk,
suasana menjadi asam. Asam dan basa merupakan katalisator dalam reaksi
organik. Pada katalisa asam umum, biasanya efektifitas sebagai katalisator
sesuai dengan kekuatan asamnya. Penahanan nafas yang semakin lama
menyebabkan suasana darah semakin asam sehingga reaksi-reaksi organik
dalam darah semakin dipacu dan meningkat, maka energi akhir yang
dihasilkan semakin besar. Dalam keadaan larutan asam, elektron-elektron
akan diserap dari lingkungan (asam merupakan akseptor pasangan elektron)
sehingga elektron-elektron juga akan banyak dihasilkan dengan latihan
pernafasan ini. Dengan gerakan jurus-jurus, energi dan elektron yang
dihasilkan diarahkan keseluruh organ, kelenjar dan jaringan tubuh lain
sehingga seluruh generator listrik yang terdapat dalam jaringan akan mendapat
suplai energi dan elektron (charged) yang memadai.
Timbulnya penyakit tidak lain disebabkan energi listrik yang disuplai
kejaringan tubuh kurang memadai, tidak semestinya, akibat adanya
ketidakberesan atau kekurangan pada sistem generator listrik jaringan,
kelenjar atau organ yang bersangkutan. Dengan memiliki sistem generator
listrik yang baik, akan menjamin kerja jaringan, kelenjar atau organ lain
dengan baik pula.
b. Fisiologis
Dengan penahanan dan penekanan napas di bawah perut sambil
bergerak menyebabkan keadaan hipoksik (kekurangan oksigen) pada paru,
berlanjut ke darah dan berakhir pada seluruh sel jaringan tubuh, terutama pada
sel-sel otot yang aktif. Dengan demikian akan melatih dan merangsang
seluruh sel tubuh melalui mekanisme hipoksia agar tetap tegar dalam
menghadapi kemiskinan akan oksigen, tidak hanya sel-sel ototnya saja. Sel
adalah satuan terkecil dari tubuh manusia. Secara biologis, kehidupan manusia
tergantung pada kehidupan sel, dan kesehatan manusia juga tergantung pada
kesehatan sel-selnya. Dengan tetap dapat bertahan tegar dalam kemiskinan
oksigen, maka tentu saja fungsi sel-sel akan menjadi semakin baik dalam
keadaan oksigen normal.
Manusia dapat bertahan hidup tanpa makan sampai 10 hari asalkan
masih dapat minum, sedangkan puasa yang biasa dilakukan berkisar 14-18
jam. Demikian pula sel-sel tubuh manusia dapat bertahan tanpa oksigen
sekitar 5-8 menit. Dalam latihan senam pernafasan, sel-sel itu dipuasakan dari
oksigen selama melakukan jurus yaitu 30-45 detik. Dengan demikian dari
sudut Ilmu Faal dapat dikemukakan bahwa manipulasi oksigen yakni
membuat sel-sel tubuh kekurangan akan oksigen adalah cara yang sangat
fisiologis untuk merangsang sel-sel tubuh meningkatkan dirinya.
Beberapa manfaat langsung dapat diperoleh dari mekanisme ini:
1). Bertambahnya jumlah haemoglobin darah. Hal ini bisa ditemukan pada
pemukim di pegunungan, dengan suasana oksigen tipis, jumlah Hb mereka
lebih tinggi. Penderita anaemia dapat sembuh dengan mekanisme ini.
2). Penelitian dapat menunjukkan bahwa olah raga biasa meningkatkan IgG,
IgM dan netrofil yang merupakan sebagian dari elemen-elemen ketahanan
tubuh. Tentu saja diharapkan latihan yang secara fisiologis mampu
merangsang seluruh sel-sel tubuh dengan mekanisme hipoksianya akan
memberikan hasil yang lebih dalam meningkatkan elemen-elemen
ketahanan tubuh tersebut. Penderita yang mengidap virus hepatitis B tetapi
tidak disertai gejala penyakit dan tanpa kelainan pada tes fungsi hatinya
dapat menggunakan mekanisme ini sebagai upaya altematif yang sangat
fisiologis untuk merangsang sel-sel tubuhnya agar mengadakan
perlawanan dan membentuk zat antinya.
3). Latihan hipoksia senam pernafasan juga akan menyebabkan orang
menjadi lebih tahan terhadap akibat dari serangan penyakit kardiovaskular
khususnya yang bersifat ischamic. Ischamic artinya ialah
kekurangan oksigen bagi sel-sel jaringan yang bersangkutan akibat dari
kurangnya pasokan darah. Misalnya ischamic stroke (otak) dan ischamic
miokard Jantung. Pada orang-orang yang telah berlatih dengan latihan
hipoksida tentulah akan mendapat akibat yang lebih ringan karena selselnya
telah terbiasa dan terlatih terhadap kekurangan oksigen.
4). Melatih sel-sel dengan menghadapkannya pada kemiskinan oksigen tidak
mustahil dapat mencegah dan bahkan menyembuhkan penyakit-penyakit
keganasan (tumor, kanker), oleh karena sel-sel ganasnya pada umumnya
mempunyai tingkat metabolisme yang sangat tinggi sehingga
membutuhkan oksigen lebih banyak untuk pertumbuhan ganasnya. Sel-sel
demikian lebih peka terhadap kekurangan oksigen sehingga akan lebih
dahulu terganggu sampai ke tingkat yang fatal, sementara sel-sel normal
belum sampai ke tingkat itu. Sifat rakus sel-sel ganas mengambil lebih
banyak zat-zat bagi pertumbuhan ganasnya inilah yang dipergunakan
sebagai dasar bagi Kemoterapi keganasan di Kedokteran Barat. Akan
tetapi bila cara Kemoterapi ini dibandingkan dengan manipulasi oksigen,
jelas bahwa manipulasi oksigen jauh lebih aman dan praktis tanpa resiko,
karena memang merupakan cara yang sangat fisiologis sehingga tidak ada
resiko overdoses. Bagi mereka yang didiagnosa atau pemah didiagnosa
mengidap keganasan, selagi masih mampu bergerak, sangat dianjurkan
untuk secepatnya mengikuti olahraga pernapasan tenaga dalam ini,
sebagai upaya penyembuhan dan pencegahan altenatif, di samping upaya
konvensional melalui jalur Ilmu Kedokteran. Dalam tubuh manusia
terdapat bermacam-macam sel sesuai dengan banyaknya macam jaringan
yang menyusun tubuh manusia. Semua sel tubuh manusia mempunyai
potensi untuk menjadi ganas. Dengan Kemoterapi keganasan maka harus
dipilih jenis obat yang paling baik diserap oleh sel-sel ganas itu.
Sedangkan dengan hipoksia, manipulasi oksigen, maka semua sel-sel
tubuh manusia memerlukan oksigen, sehingga oleh karenanya manipulasi
oksigen merupakan cara yang universal dan aman bagi terapi keganasan.
Tentu saja untuk itu diperlukan latihan yang lebih intensif yaitu frekuensi
latihan lebih banyak serta waktu latihan yang lebih lama.
5). Normalnya fungsi sel-sel tubuh dan ketegaran serta ketahanannya dalam
menghadapi berbagai keadaan yang kurang menguntungkan merupakan
wujud dari derajat kesehatan dan kemampuan fungsionalnya yang lebih
tinggi dari tubuh secara keseluruhan. Dengan demikian maka ditinjau dari
sudut Fisiologi, senam pernapasan adalah ketegaran, ketangguhan dan
vitalitas sel-sel tubuh yang diperoleh melalui latihan hipoksia anaerobik.
Latihan dengan mekanisme hipoksia anaerobik membuat sel-sel tubuh
menjadi pandai dan efisien menggunakan oksigen, yang berarti
meningkatnya kemampuan fungsional dan kesehatan sel, serta merupakan
cara yang sangat fisiologis pula dalam merangsang sel-sel tubuh untuk
melakukan penyembuhan bagi dirinya. Pada olah raga kesehatan
umumnya adalah latihan untuk membuat sel-sel tubuh mudah dan banyak
dapat memperoleh oksigen. Bila kedua latihan tersebut digabungkan,
maka manfaatnya bagi kesehatan dan kemampuan fungsional jelas sangat
besar. Yang satu pandai mencari oksigen, yang satu lagi pintar dan efisien
menggunakan oksigen.
KESIMPULAN
Tujuan pernapasan ialah mengambil oksigen dari udara luar untuk keperluan
oksidasi sel dan mengeluarkan karbondioksida (sebagai sisa oksidasi sel) ke udara
luar. Pernapasan dibagi menjadi dua kategori yaitu pernapasan internal dan
pernapasan eksternal. Ventilasi secara mekanis dilaksanakan dengan mengubahubah
secara berselang-seling arah gradien tekanan untuk aliran udara antara
atmosfer dan alveolus melalui ekspansi dan penciutan berkala paru.
Pertukaran gas oksigen dan karbondioksida bergerak melintasi membran
tubuh melalui proses difusi pasif mengikuti gradien tekanan parsial. Oksigen dan
Karbondioksida tidak terlalu larut dalam darah, keduanya teruama harus diangkut
dengan mekanisme selain hanya larut secara fisik. Hanya 1,5% O2 yang larut
secara fisik dalam darah, dengan 98,5% secara kimiawi berikatan dengan
hemoglobin (Hb). Olahraga akan mempengaruhi konsumsi O2 dan produksi CO2
lebih banyak dibandingkan dengan aktivitas lainnya. Frekuensi pernapasan
meningkat dari 12-16 X/menit menjadi 40-50 X/menit.
Senam pernapasan latihan dilakukan dengan mengolah pernapasan, yang
dilakukan dalam 3 tahap: 1) Pernapasan duduk awal, 2) Pernapasan bergerak, dan
3) Pernapasan duduk akhir. Manfaat senam pernapasan dapat ditinjau dari dua
sudut: Biolistrik dan Fisiologi. Dari sudut Ilmu Faal dapat dikemukakan bahwa
manipulasi oksigen yakni membuat sel-sel tubuh kekurangan akan oksigen adalah
cara yang sangat fisiologis untuk merangsang sel-sel tubuh meningkatkan dirinya.
DAFTAR PUSTAKA
A. Purba. (2006). Kardiovaskuler dan Faal Olahraga. Bandung: Fakultas
Kedokteran Universitas Padjadjaran.
Lauralee Sherwood yang di terjemahkan oleh Beatricia. I Santoso. (2001).
Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Maryanto http://www.angelfire.com/fl/sutan/penjelasan.htm
Muchtamadji M. Ali dan Cecep Habibudin. (2000). Ilmu Faal Dasar. Jakarta:
Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar
dan Menengah Bagian Proyek Penataran Guru SLTP Setara D-III.
Santosa Giriwijoyo dan Muchtamadji M. Ali. (2006). Ilmu Faal Olahraga Fungsi
Tubuh Manusia pada Olahraga. Bandung: Fakultas Pendidikan Olahraga
dan Kesehatan UPI.
Wisnu Wardoyo. (2003). Revitalisasi Senam Penyembuhan Medica. Yogyakarta:
SPa Medica

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar